JAKARTA - Penguatan infrastruktur pelabuhan kembali menjadi fokus utama dalam menjaga kelancaran arus logistik nasional.
Memasuki 2026, PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) mengambil langkah strategis dengan menyiapkan investasi besar pada pengadaan alat bongkar muat baru di sejumlah terminal peti kemas utama.
Upaya ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan distribusi barang yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan aktivitas perdagangan nasional.
Sebagai anak usaha Pelindo, SPTP menilai peningkatan kapasitas dan keandalan layanan pelabuhan harus berjalan seiring dengan modernisasi peralatan.
Tanpa dukungan alat bongkar muat yang memadai, risiko antrean kapal dan keterlambatan distribusi dinilai dapat menghambat kinerja logistik nasional.
Oleh karena itu, perusahaan memastikan langkah penguatan infrastruktur dilakukan secara terencana dan merata di berbagai wilayah Indonesia.
Investasi Alat Bongkar Muat Jadi Fokus Utama
Dalam rencana yang telah disusun, PT Pelindo Terminal Petikemas akan mendatangkan total 39 unit alat bongkar muat baru. Pengadaan ini terdiri atas 13 unit Quay Container Crane (QCC) yang beroperasi di area dermaga serta 26 unit Rubber Tyred Gantry (RTG) untuk mendukung aktivitas di lapangan penumpukan peti kemas.
Seluruh alat yang didatangkan merupakan unit baru dan dijadwalkan tiba secara bertahap pada semester II tahun 2026.
Kehadiran alat ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas bongkar muat kapal sekaligus mempercepat pergerakan peti kemas dari dan ke terminal. Dengan demikian, waktu sandar kapal dapat ditekan dan efisiensi operasional pelabuhan semakin optimal.
SPTP menilai investasi ini bukan sekadar penambahan aset, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat daya saing pelabuhan nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Penempatan Alat Menjangkau Terminal Strategis
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menjelaskan bahwa alat-alat bongkar muat baru tersebut akan ditempatkan di sejumlah terminal utama yang memiliki volume lalu lintas peti kemas tinggi. Beberapa di antaranya adalah TPK Belawan, TPS Surabaya, dan TPK Semarang.
Namun, penguatan tidak hanya terfokus pada pelabuhan besar. SPTP juga menyasar wilayah lain seperti Lampung, Riau, Banjarmasin, Kendari, hingga Kalimantan Barat. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pemerataan kualitas layanan kepelabuhanan di seluruh wilayah Indonesia.
“Alat-alat baru ini akan ditempatkan di terminal utama seperti TPK Belawan, TPS Surabaya, dan TPK Semarang. Namun, kami juga menyasar wilayah lain seperti Lampung, Riau, Banjarmasin, hingga Kendari dan Kalimantan Barat untuk memastikan pemerataan kualitas layanan,” ujar Widyaswendra.
Menurutnya, pemerataan fasilitas menjadi kunci agar rantai logistik nasional tidak hanya kuat di wilayah tertentu, tetapi juga mampu mendukung distribusi barang antarwilayah secara lebih seimbang.
Optimalisasi Aset dan Relokasi Peralatan
Selain mendatangkan alat baru, SPTP juga melakukan optimalisasi aset yang telah dimiliki melalui skema relokasi. Langkah ini dilakukan untuk menjaga performa operasional terminal yang membutuhkan tambahan kapasitas dalam waktu relatif cepat.
Salah satu contoh relokasi adalah penguatan Terminal Petikemas Berlian yang akan mendapatkan tambahan dua unit QCC. Penambahan ini bertujuan menjaga kelancaran operasional serta memastikan pelayanan bongkar muat tetap berjalan optimal di tengah peningkatan arus barang.
Strategi kombinasi antara pengadaan alat baru dan relokasi aset dinilai lebih efisien karena mampu menjawab kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang sekaligus. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat mengelola sumber daya secara lebih fleksibel sesuai dengan dinamika lalu lintas peti kemas di masing-masing terminal.
Dukungan Industri Logistik dan Pelayaran
Rencana modernisasi peralatan pelabuhan ini mendapat sambutan positif dari pelaku industri logistik dan pelayaran. Ketua DPP Indonesian National Shipowners’ Association (INSA), Carmelita Hartoto, menegaskan bahwa pembenahan infrastruktur pelabuhan merupakan kebutuhan mendesak.
Menurutnya, pertumbuhan lalu lintas barang dari tahun ke tahun menuntut pelabuhan untuk terus memperbarui peralatan dan sistem operasional. Tanpa peningkatan tersebut, efisiensi logistik nasional akan sulit tercapai.
“Dukungan peralatan dan sistem operasi pelabuhan harus terus diperbarui agar distribusi logistik nasional lebih optimal,” ungkap Carmelita.
Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Trismawan Sanjaya, menyoroti pentingnya integrasi teknologi dalam operasional pelabuhan. Ia menilai modernisasi alat harus dibarengi dengan sistem yang terstandar agar biaya logistik nasional dapat ditekan secara berkelanjutan.
Menurut Trismawan, standardisasi layanan pelabuhan di seluruh wilayah kepulauan Indonesia juga akan meningkatkan daya saing nasional di tingkat global.
Target Ekosistem Pelabuhan Berstandar Internasional
Sejak integrasi Pelindo pada 2021, PT Pelindo Terminal Petikemas kini mengelola 32 terminal peti kemas yang tersebar di berbagai wilayah strategis Indonesia. Dengan jaringan yang luas tersebut, kebutuhan akan peralatan yang andal dan efisien menjadi semakin penting.
Penambahan armada QCC dan RTG baru pada 2026 diyakini akan memperkuat ekosistem kepelabuhanan nasional. SPTP optimistis langkah ini mampu menghadirkan layanan yang lebih andal, efisien, serta memenuhi standar internasional.
Keandalan pelabuhan dinilai bukan hanya berdampak pada sektor logistik, tetapi juga pada daya saing ekonomi nasional secara keseluruhan. Dengan distribusi barang yang lebih lancar, biaya logistik dapat ditekan dan aktivitas perdagangan menjadi lebih kompetitif.
Melalui strategi modernisasi peralatan, pemerataan fasilitas, serta dukungan dari para pemangku kepentingan, PT Pelindo Terminal Petikemas menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran pelabuhan sebagai tulang punggung logistik nasional di masa mendatang.