JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah memperkuat langkah strategis dalam memperluas pengembangan ekosistem hidrogen di Indonesia melalui ajang Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026, yang digelar di Kantor Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE), Jakarta, pada Selasa, 10 Februari 2026. Inisiatif ini dinilai sebagai langkah penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional serta mendorong pemanfaatan hidrogen untuk mendukung sektor industri dalam negeri.
Dengan latar belakang kebutuhan untuk mempercepat transisi ke energi bersih dan memenuhi target-target dekarbonisasi, GHES 2026 menjadi platform penting bagi pemerintah, pelaku industri, dan pemangku kepentingan untuk membahas berbagai peluang dalam pengembangan hidrogen. Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, membuka acara tersebut secara virtual dan menyampaikan harapannya agar Indonesia dapat mengakselerasi teknologi hidrogen yang mendukung industrialisasi serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Penguatan Teknologi dan Industrialiasi Hidrogen
Menurut Yuliot, melalui GHES 2026, pemerintah berupaya agar Indonesia memiliki kemampuan teknologi yang mendukung pengembangan hidrogen dan pemanfaatannya dalam berbagai segmen industri. Beliau menegaskan bahwa salah satu tujuan utama pengembangan ekosistem hidrogen adalah untuk memperluas pemanfaatan hidrogen dalam kegiatan hilirisasi industri dalam negeri, termasuk sektor pupuk. “Tentu pemerintah sangat berkepentingan untuk adanya Global Hydrogen Ecosystem Summit ini, karena kami melihat dari sisi ekosistem,” ujar Yuliot membuka acara tersebut.
Hidrogen telah lama dipandang sebagai energi masa depan yang dapat mendukung upaya transisi dari energi fosil menuju energi bersih. Pemanfaatan hidrogen, khususnya hidrogen hijau yang dihasilkan dari sumber energi terbarukan, diyakini mampu memberikan kontribusi signifikan pada dekarbonisasi sektor industri dan pengurangan emisi karbon. Indonesia, sebagai negara dengan potensi sumber daya energi yang melimpah, berupaya menjadikan hidrogen sebagai komoditas strategis sekaligus memperkuat basis energi nasional.
Peran Hidrogen dalam Ketahanan Energi Nasional
Data yang disampaikan dalam GHES 2026 menunjukkan bahwa konsumsi hidrogen Indonesia saat ini berada di angka sekitar 1,75 juta ton per tahun, dengan mayoritas dimanfaatkan untuk ketahanan pangan melalui produksi pupuk urea dan amonia, serta penggunaan di kilang minyak. Pemanfaatan hidrogen dalam sektor-sektor ini menunjukkan bahwa hidrogen bukan hanya komoditas energi, tetapi juga komponen strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan industri nasional.
Lebih lanjut, Yuliot menjelaskan bahwa pengembangan ekosistem hidrogen juga sejalan dengan Astacita, program strategis yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini menekankan pentingnya penguatan kemandirian dan ketahanan energi nasional sebagai bagian dari pembangunan nasional yang berkelanjutan. “Untuk ketahanan energi nasional ini juga kami kaitkan dengan ketahanan pangan, dan juga yang kami sampaikan tadi, yakni program hilirisasi,” tutur Yuliot.
Dengan memadukan konsep ketahanan energi, pengembangan teknologi, dan pemanfaatan dalam industri, pemerintah berharap bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pengguna hidrogen, tetapi juga menjadi pemain utama dunia dalam produksi dan pemanfaatan hidrogen. Potensi ini dilihat sebagai peluang besar untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global, sekaligus membuka peluang ekspor hidrogen di masa depan.
Hidrogen sebagai Kontributor Dekarbonisasi dan Transisi Energi
Selain menguatkan ketahanan energi, hidrogen juga dilihat sebagai instrumen penting dalam mencapai target pengurangan emisi karbon dan transisi energi bersih. Hidrogen dianggap sebagai salah satu solusi untuk menggantikan bahan bakar fosil di sektor-sektor yang sulit di-dekarbonisasi, seperti industri berat dan transportasi. Pemerintah Indonesia sebelumnya juga telah mempercepat pembentukan ekosistem hidrogen untuk berjalan seiring dengan Strategi Hidrogen Nasional serta Rencana Hidrogen dan Amonia Nasional (RHAN), sebagai bagian dari kerangka kebijakan guna mengoptimalkan potensi hidrogen secara nasional.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa pengembangan hidrogen tidak hanya berperan sebagai alat dekarbonisasi, tetapi juga sebagai pilar transformasi ekonomi dan industrialisasi jangka panjang bagi Indonesia. Dengan demikian, hidrogen diharapkan dapat menciptakan nilai tambah yang signifikan bagi perekonomian nasional melalui pengembangan industri berbasis energi bersih.
Pemerintah bersama berbagai pihak juga terus mendorong kerja sama internasional dan percepatan investasi dalam pengembangan teknologi hidrogen. Upaya ini tidak hanya mencakup aspek produksi, tetapi juga pengembangan infrastruktur pendukung seperti fasilitas penyimpanan, distribusi, dan penggunaan hidrogen secara luas dalam sektor industri dan transportasi.
Tantangan dan Prospek Ekosistem Hidrogen di Indonesia
Meski memiliki potensi yang besar, pengembangan ekosistem hidrogen di Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan. Beberapa tantangan utama termasuk kebutuhan investasi besar, pengembangan teknologi lokal, serta penyusunan regulasi yang mendukung pengembangan industri hidrogen. Oleh karena itu, GHES 2026 menjadi sarana penting untuk mempertemukan pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, swasta, dan investor asing, guna membahas solusi kolaboratif terhadap tantangan tersebut.
Potensi Indonesia untuk menjadi pusat pengembangan hidrogen di kawasan Asia Tenggara sangat besar. Hal ini didorong oleh kekayaan sumber daya energi yang melimpah, termasuk energi terbarukan seperti tenaga panas bumi, angin, dan surya, yang dapat dimanfaatkan untuk memproduksi hidrogen hijau. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan investasi teknologi, Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan peluang ini untuk memperkuat ekonomi nasional serta mencapai target-target keberlanjutan jangka panjang.
Dengan rangkaian langkah strategis, mulai dari pengembangan teknologi, pembentukan kerangka kebijakan, hingga kolaborasi internasional yang semakin kuat, Indonesia berupaya untuk memperkuat perannya dalam ekosistem hidrogen global sekaligus mengakselerasi transisi energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.